tentang buaya...

"Dasar laki-laki buaya..." begitu umpat seorang perempuan ketika mengetahui pacarnya mempunyai cewek idaman lain. sering kali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti diatas, untuk mengasosiasikan/mengkonotasikan seorang laki-laki yang tidak setia dengan kata-kata tambahan buaya, misalnya : cowok buaya, laki-laki buaya, dan lain sebagainya.

Padahal tahukah anda? penelitian ilmiah membuktikan bahwa buaya adalah hewan yang mempunyai kesetiaan/loyalitas yang tinggi terhadap pasangannya. Penelitian membuktikan bahwa seekor buaya biasanya mempunyai pasangan yang tetap selama hidupnya.

Jika demikian adanya, maka bagaimana ungkapan seperti diatas bisa sampai muncul dan menjadi kata favorit kaum hawa untuk menggambarkan laki-laki yang tidak setia terhadap pasangannya? terus terang saya sendiri tidak tahu kenapa, tapi kalau boleh saya menebak kemungkinan besar hal ini terjadi karena efek psikologis orang-orang yang menganggap bahwa buaya merupakan hewan yang "menyebalkan" atau menakutkan, setidaknya itu kesan yang kita tangkap ketika kita masih kecil, anda tentu pernah dengar cerita tentang buaya dan kerbau, bukan?

belum pernah dengar/baca? begini kira-kira kisahnya. suatu hari disebuah hutan ada buaya yang sedang tertimpa kayu besar. kebetulan ada kerbau yang lewat. melihat buaya yang tampak kesakitan tersebut kerbau merasa iba dan kemudian menyingkirkan kayu yang menimpa sang buaya.setelah menerima pertolongan itu, buaya sangat berterimakasih. karena masih lelah tertimpa kayu, buaya kemudian meminta lagi pertolongan kerbau untuk membawanya ke tepi sungai.

kerbau dengan tanpa curiga kemudian mempersilahkan buaya menaiki punggungnya.tapi apa yang terjadi setelah buaya menaiki punggung sang kerbau? sang buaya menggigit leher sang kerbau dan berniat memakannya. kerbau teriak minta tolong, kemudian datang sang monyet. dan bertanya apa yang terjadi?

kerbau menjelaskan duduk perkaranya. dan kemudian sang monyet meminta buaya dan kerbau melakukan rekonstruksi ulang, sejak dari tertimpanya buaya oleh balok besar sampe terjadi insiden penggigitan leher kerbau oleh sang buaya. kerbau dan buaya menyanggupi rekonstruksi ulang, ketika kayu itu ditimpakan lagi ke buaya untuk rekonstruksi ulang monyet menyetop rekonstruksi ulang tersebut pas saat sang buaya sudah tertimpa kayu besar. dan membiarkan buaya dalam keadaan tertimpa kayu seperti semula, dan kerbau itupun bebas dari maut.

membaca/mendengar cerita diatas, siapa seh yang tidak akan membenci sang buaya? sudah di tolong eh malah berbuat jahat. benar-benar tidak berterimakasih, bukan? dan mungkin kebencian yang kita tanam terhadap buaya sejak kecil itulah yang tumbuh dan menjelma dalam ucapan. dan kemudian kita mengasosiasikan/mengkonotasikan sifat buruk seseorang dengan buaya. padahal pada kenyataanya, buaya tidaklah seburuk itu, bukan?

btw, ini hanya sebuah perkiraan tidak berdasar dari diriku saja kok... jangan terlalu dipercaya dan dijadikan acuan yaa... ha ha ha. selanjutnya saya ingin mengulas cerita tentang kancil dan hubungannya dengan korupsi di negeri ini. pengen tahu ide gila saya? tunggu yaa...

Komentar

Pos populer dari blog ini

Euis ke antosan heula...

heee.... Boros ka

Tentang dongeng