where do we go from here? eh mau kemana kita?

Mulai sekarang mau nulis yang serius-serius lagi ah. Terinspirasi dari kolom resonansi di http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=263724&kat_id=19 artikel yang berjudul : "pembentukan sebuah bangsa dan balai pustaka". Jadi inget, waktu sd saya pernah membaca sebuah novel berjudul : "pengalaman masa kecil" yang dikarang oleh Nur sutan Muhamad yang diterbitkan oleh balai pustaka.

Novel tersebut berkisah tentang pengalaman kecil Manun, tokoh yang diceritakan dalam novel itu (saya tidak tahu apakah itu benar-benar pengalaman pengarang atau bukan), tentang budaya dan adat istiadat minangkabau, tentang opini-opini manun mengenai adat istiadat itu, dan lain sebagainya.

Hampir seluruh isi novel itu benar-benar sarat dengan pemikiran pengarang, yang menurut saya sangat bagus. Sebagai misal, ketika dalam novel itu diceritakan tentang manun yang suka main bola kulit sedangkan adat istiadat disana saat itu masih menganggap tabu permainan bola kulit karena dianggap permainan bola kulit dianggap ada hubungannya dengan peristiwa di padang karbala, yakni tentang pembantaian cucu Nabi Muhammad SAW, Husen ra. adat istiadat kala itu menganggap bola kulit yang dimainkan mencerminkan kepala Husein ra. Pada saat itu manun menentang pandangan seperti itu, dan berusaha meluruskan kesalahan dalam pemikiran yang berkembang pada masyarakat itu.

Terus yang membuat saya lebih tertarik dengan buku ini adalah karena buku ini menyajikan pandangan dari sisi anak kecil yang pandangannya masih jernih, yang menentang pemikiran/pendapat/kelakuan orang dewasa yang tidak betul. Seperti diceritakan tentang kelakuan orang dewasa yang suka menakut-nakuti anak kecil, kelakuan orang dewasa yang tidak suka menghargai anak kecil. Buku ini benar-benar menjadi inspirasi bagi saya.

Saya jadi teringat dengan buku yang memiliki tema yang mirip (tentang sindiran terhadap kelakuan orang dewasa) yaitu novel le petit prince. Jadi kalau kamu suka dengan novel le petit prince mesti kamu suka juga dengan novel pengalaman masa kecil-nya Nur Sutan Muhammad :).

Kembali ke topik semula tentang pembentukan sebuah bangsa dan balai pustaka, saya setuju dengan penulis pada kolom resonansi di republika online tersebut bahwa sekarang ini proses pembentukan sebuah bangsa seperti terhenti. Entah kenapa, atau mungkin sebenarnya proses itu tidak terhenti, tetapi tetap terjadi tapi menuju pembentukan bangsa yang menuju arah kehancuran. eh tapi jika itu yang terjadi, maka bukan pembentukan yang terjadi tapi penghancuran bangsa.

kok bisa? bagaimana tidak, coba kita tengok media yang paling mempengaruhi hidup kita saat ini yakni televisi. maraknya televisi yang ada di negara ini, sarat dengan acara-acara yang tidak bermutu, misal sinetron-sinetron yang mengajarkan mistik, klenit, materialistik, kriminalitas dll. saya tidak habis pikir dengan pengelola televisi, apakah mereka merasa tidak punya tanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkan dari penayangan acara-acara tidak bermutu itu?

Mungkin insan media akan beralasan, acara yang bermutu kurang rattingnya sehingga pemasukan iklan menjadi kurang dan lagi-lagi alasannya kemudian berujung pada uang. bagaimana bisa siaran jika tanpa uang? menurut saya itu bukan menjadi alasan. menurut saya jika kita mampu mengemasnya dengan baik insya Allah rattingnya tinggi.

dan yang lebih parah lagi, ketika beralasan mengenai ratting itu ada sebagian orang yang tega-teganya berkata : ratting itu mencerminkan begitulah realitasnya masyarakat orang indonesia, menyukai hal-hal seperti itu (misalnya karena sinetron A yang gak bermutu memiliki ratting yang tinggi). yaa yaa yaa, mungkin kenyataannya atau realitas masyarakatnya seperti itu tapi apakah kita akan membiarkan masyarakat menjadi masyarakat seperti itu? kalau emang niat dan ada itikad baik memajukan bangsa ini maka ubahlah dengan perbaikan, dengan pemberian acara bermutu bukannya menyerah pada kenyataan. karena kenyataannya (misalnya penyuka sinetron mistis) seperti itu kemudian disuguhkan acara yang menyuburkan budaya jelek itu. itu seh sama seperti memberikan narkoba pada orang sakau.

kita tahu orang yang ketagihan narkoba akan sakau. dan supaya gak sakau harus dikasih narkoba. itu kenyataanya, tapi jika kita kasih bukankah itu akan menambah ketergantungan orang itu dan tidak memberikan solusi (membuat si pengguna jadi sembuh dari ketagihan narkoba)? begitu juga dengan masyarakat yang menyukai acara2 mistik itu (yang notabene seperti narkoba, memberi pengaruh negatif bagi kesehatan mental) apakah kita kemudian lebih baik memberikan lagi acara yang bersifat mistik dan bukannya memberikan acara yang lebih bermutu yang lebih bagus untuk pembentukan mental?

saya benar-benar tidak habis pikir memirkan hal ini, atau mungkin hal ini belum bisa saya pahami karena saya masih berpikir dalam dunia ideal sedangkan mereka sudah berkecimpung dalam dunia realitas? entahlah :), yuk mari membangun bangsa ini.

Komentar

Diva mengatakan…
Nice blog, salam kenal...mari kita bangun bangsa ini...
tanti_aryono mengatakan…
di mana yaa kira-kira saya bisa beli buku ini? Masih di produksi gak ya? thx.

nice blog. :-)

Postingan populer dari blog ini

Euis ke antosan heula...

heee.... Boros ka

Tentang dongeng