mengurai benang kusut

benang kusut, mungkin kata ini cukup representatif untuk menggambarkan keadaan negeri ini yang sedang carut marut. berbagai permasalahan datang silih berganti (terungkap satu persatu) tanpa ada penyelesaian yang holistik (solusi yang menyeluruh) yang kemudian dilupakan karena munculnya permasalahan baru.

tidak salah jika kemudian banyak orang sakit jiwa baru bermunculan, jujur saja sayapun mungkin akan jadi ikut sakit jiwa, betapa tidak kalau setiap harinya pada layar tv ditayangkan berita tentang permasalahan negeri ini yang seolah tiada surutnya. belum lagi tayangan kriminalitas yang diekspos berlebihan, seolah-olah dinegeri ini tiada lagi keamanan, seolah-olah orang baik sudah sulit ditemukan. apalagi ketika diketahui sang pelaku merupakan orang terdekat dari keluarga korban. secara tidak sadar, dalam sisi positif akan meningkatkan sisi waspada kita. tapi disisi lain, dari sisi negatifnya akan memunculkan kecurigaan terhadap orang lain mungkin orang terdekat kita, lebih-lebih menyebabkan ketakutan berlebihan yang akan menyebabkan kita merasa tidak aman. konten media tv yang tidak proporsional, salah satu masalah yang dihadapi negeri ini.

btt, sewaktu saya masih kecil dan lagi lucu2nya, saya senang sekali main layangan. dan pernah sekali dua kali benang yang saya pakai pagujud (baca : kusut). apa yang saya lakukan ketika benang saya kusut? setidaknya ada 3 alternatif yang bisa saya lakukan.

pertama. saya akan mencari ujung dari benang kusut tersebut, kemudian menguraikan simpul-simpul kekusutannya satu persatu. bagaimana jika saya tidak menemukan ujung benangnya? maka yang saya lakukan adalah memotong/memutus salah satu benang kemudian menguraikan simpul-simpul kekusutan via ujung yang sudah saya potong tersebut. kekurangan dari cara ini adalah membutuhkan proses yang lama, tapi hasilnya insya Allah lebih rapi tidak menyisakan “cacat”.

kedua, saya akan memotong tepat pada simpul yang menjadi kekusutannya. ini cara yang paling cepat mengurai kekusutan. meskipun cara ini paling cepat menguraikan kekusutan benang, akan tetapi hasil yang didapat menyebabkan terlalu banyak serpihan-serpihan benang yang tidak utuh lagi. saya bisa membuatnya utuh dengan menyambungkannya lagi, tapi ketika terlalu banyak sambungan hasilnya menjadi tidak indah, tidak rapi dan tidak enak digunakan lagi(banyak “cacat”nya) .

cara yang ketiga, yang bisa saya lakukan jika benang layangan saya kusut adalah dengan memotong bagian yang kusut dan membuangnya. cara ini saya lakukan jika benang yang kusut tersebut sedikit, atau saya punya resource yang cukup untuk menggantinya dengan yang baru.

jika saya analogikan benang kusutnya layangan saya dengan benang kusutnya negeri ini, diantara ketiga cara diatas cara manakah yang paling cocok untuk mengurai benang kusut permasalahan negeri ini? kalau saya pribadi, saya ingin memakai cara yang pertama. meskipun akan memakan waktu yang lama, tapi cara ini yang paling elegan dilakukan. sedikit demi sedikit tapi pasti.

karena banyaknya permasalah yang dihadapi negeri ini, sudah tentu butuh resource, butuh sdm yang banyak pula untuk mengatasinya. kalau saja negeri ini bisa berbicara tentu akan berteriak “we need your help people”, dan satu hal yang perlu dicamkan jika kamu gak bisa jadi bagian dari solusi, tolong jangan jadi bagian dari masalah.

Komentar

Rachmawati mengatakan…
wah, lagi suasana sumpah pemuda ya K?
berat-berat terus postingannya :D

Rachma dulu juga sering main layangan, tapi kalo benangnya pagujud, 'kenur' na pajeujeut... suka dibuang ajah, beli baru... 'gelasan'

hehehe
mbud lagi ngelindur mengatakan…
he he he, lagi pengen ngeluarin uneg2 aja neh ma.
wah rahma suka maen layang2 juga ? kalau gelasan yang pagujud mah udah susah dibenerin, kalo kenur mah masih memungkinkan di benerin :D

Pos populer dari blog ini

Euis ke antosan heula...

heee.... Boros ka

Tentang dongeng